Minggu, 16 Agustus 2020

Puisi : Kadang Kita Lupa

 Kadang kita lupa bahwa sejak sekolah dasar dulu kita diajarkan tentang sudut pandang

Kadang kita lupa bahwa sudut pandang yang diajarkan itu ada tiga

Kadang kita lupa  bahwa 3 sudut pandang itu adalah orang pertama, orang kedua dan orang ketiga

 

Kadang kita lupa bahwa orang pertama adalah aku, saya, daku, kami

Kadang kita lupa bahwa orang kedua adalah kamu, kau, dikau, engkau,

Kadang kita lupa bahwa orang ketiga adalah dia, mereka

Kadang kita lupa bahwa aku, saya, daku adalah yang mengalami

 

Kadang kita lupa bahwa kamu, kau, dikau, engkau adalah orang lain yang mengalami tanpa aku tau apa itu

Kadang kita lupa bahwa dia, mereka adalah sekelompok orang yang mengalami hal tanpa aku tau apa itu

Kadang kita lupa bahwa aku tidak mengalami dan merasakan apa yang kamu dan dia alami dan rasakan

Kadang kita lupa bahwa kamu juga tidak mengalami dan merasakan apa yang aku alami dan rasakan

Kadang kita lupa bahwa mereka tidak mengalami dan merasakan apa yang aku dan kamu alami dan rasakan

 

Kadang kita lupa bahwa aku, kamu dan mereka adalah berbeda, adalah tak sama satu sama lain

Kadang kita lupa bahwa posisiku tak sak sama dengan posisi kamu dan dia

Kadang kita lupa bahwa posisimu tak sama dengan posisi ku dan dia

Kadang kita lupa bahwa posisi dia dan mereka tak sama dengan posisi ku dan kamu

Kadang kita lupa bahwa bahagiaku tidak sama dengan bahagia mu dan dia

Kadang kita lupa bahwa bahagiamu tidak sama dengan bahagiaku dan dia

Kadang kita lupa bahwa bahagianya tidak sama dengan bahagiaku dan kamu

 

Kadang kita lupa bahwa aku, kamu dan dia bahagia

Kadang kita lupa bahwa aku bahagia dengan caraku

Kadang kita lupa bahwa kamu bahagia dengan caramu

Kadang kita lupa bahwa dia bahagia dengan caranya

 

Kadang kita lupa dimana posisi dan sebagai apa kita ditakdirkan

Kadang kita lupa bahwa aku ditakdirkan sebagai aku, bukan sebagai kamu bahkan bukan pula dia

Kadang kita lupa bahwa kamu ditakdirkan sebagai kamu, bukan sebagai aku bahkan bukan pula dia

Kadang kita lupa bahwa dia ditakdirkan sebagai dia, bukan sebagai aku bukan pula kamu

Kadang kita lupa bahwa aku bukanlah kamu ataupun dia

Kadang kita lupa bahwa kamu bukanlah aku ataupun dia

Kadang kita lupa bahwa dia bukanlah aku ataupun kamu

 

Kadang kita lupa bahwa aku masih suka mengusik dan berpikir bahwa aku adalah kamu bahkan dia

Kadang kita lupa bahwa kamu masih suka mengusik dan berpikir bahwa kamu adalah aku bahkan dia

Kadang kita lupa bahwa dia masih suka mengusik dan berpikir bahwa dia adalah aku bahkan kamu

Kadang kita lupa bahwa tidak semuanya harus selalu seperti yang aku mau

Kadang kita lupa bahwa tidak semuanya harus selalu seperti yang kamu mau

Kadang kita lupa bahwa tidak semuanya harus selalu sepeti yang dia mau

Kadang kita lupa bahwa kita kadang suka lupa.

 

  

Minggu, 31 Mei 2020

Sinopsis Novel Guru Aini


Sinopsis Novel “Guru Aini”

Novel Guru Aini merupakan prekuel dari Novel Orang-Orang Biasa karya Penulis Novel Tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Novel ini merupakan karya ke-12 Pak Cik Andrea Hirata, dengan novel sebelumnya adalah Orang-Orang Biasa.  Novel ini diterbitkan pada Bulan Januari 2020 oleh Penerbit Bentang Pustaka dan didistribusikan oleh Mizan Media. Novel ini memiliki tebal kurang lebih 336 halaman.  Novel ini memiliki tampilan fisik hampir serupa dengan Novel sebelumnya, Orang-Orang Biasa yaitu dengan sampul berwarna kuning yang sedikit gelap hampir ke hijau lumut. Jika pada bagian sampul depan novel Orang-Orang Biasa terdapat gambar sesosok lelaki bertopeng monyet, maka di novel Guru Aini ini terdapat sepasang sepatu olahraga berwarana putih bergaris-garis merah yang sudah lusuh. Novel ini seperti flashback dari Novel Orang-Orang Biasa. Karena ternyata alasan kenapa 10 sekawanan sahabat itu melakukan perampokan yang luar biasa hebat di dunia tidak lain karena Aini, tokoh utama dalam cerita ini.
Novel Guru Aini ini berlatar di sebuah pulau terpelosok nun jauh dibagian selatan pulau Sumatra, daerah Ketumbi, Pulau Tanjong Hampar. Dulu daerah itu masuk dalam wilayah Sumatra Selatan. Bahkan untuk sampai disana memerlukan waktu sekitar 3 hari 3 malam melalui perjalanan darat, dengan menaiki beberapa bus dan harus berlayar dengan kapal barang yang memuat apa saja untuk berjam-jam karena badai dan ombak sering membuat kapal itu terombang-ambing lebih dari waktu yang diperkirakan.  
Gaya bercerita si penulis dalam novel ini yaitu menggunakan sudut pandang orang ketiga tunggal, yaitu penulis mengetahui seluruh isi dan jalan cerita. Cerita dalam novel ini memiliki alur campuran, yaitu didalamnya terdapat alur maju dan mundur (flashback). Novel ini menceritakan perjuangan seorang Guru Matematika, yaitu Guru Desi. Guru Desi ini bersikeras ingin menjadi guru matematika, tujuannya sangat mulia yaitu ingin mencerdaskan bangsa ini dari kebodohan yang panjang. Perjalanan Guru Desi tidaklah mudah untuk menjadi Guru Desi yang dipandang sebagai guru Hebat dan eksentrik. Perjalanan Guru Desi dimulai saat ia lulus dari studinya dan akhirnya mendapat tempat pengabdian di Ketumbi, Pulau Tanjong Hampar. Ia harus menempuh perjalanan yang sulit dan panjang bahkan ia rela meskipun ia tahu ia tak tahan dalam perjalanan kapal. Berbekal tas carrier besar dipunggung dan sepatu olahraga hadiah dari Ayahnya yang tak pernah ia lepaskan serta buku The Principles of Calculus yang selalu ia tenteng selama perjalanan.  Seperti kita tahu bahwa pendidikan di daerah pelosok masih belum mengalami kemajuan, baik dai segi sumber daya pengajarnya maupun dari kualitas muridnya. Inilah tantangan Guru Desi selama mengabdi di Tanjong Hampar, ia ingin menjadi guru yang berhasil dan mengubah murid yang tidak bisa menjadi bisa.
Akhirnya Guru Desi menemukan satu murid genius, yaitu Debut Awaludin. Ia tak hanya genius, tapi juga terampil dan kreatif. Baginya matematika bukanlah hal sulit. Guru desi ingin mengajarkan matematika secara langsung kepada Debut, hingga ia menyiapkan bangku khusus untuk Debut belajar di rumah dinasnya. Namun Guru Desi kecewa berat, karena Debut mengundurkan diri sebagai muridnya dan memilih menjadi anggota penghuni kursi belakang. Sejak saat itu, sepatu olahraga bergaris merah hadiah dari ayahnya tak pernah ia ganti hingga akhirnya Guru Desi bertemu seorang siswa bebal, yaitu Aini, anak Dinah kawan Debut, para penghuni bangku belakang.
Dalam novel ini, juga menceritakan kisah sesungguhnya bagaimana Aini atau Nuraini binti Syafrudin, membawa nama ayahnya Syafrudin, seorang anak dari salah satu dari 9 sekawanan yaitu Dinah. Aini memang benar menuruni bakat Ibunya  dalam hal matematika. Bagaimana bisa setiap mendengar kata matematika dan setiap pelajaran matematika di sekolah perutnya menjadi sakit, dan anehnya lagi sakit itu sembuh seketika saat pelajaran matematika selesai. Hingga akhirnya saat masuk SMA, ayah Aini jatuh sakit. Sudah dibawa ke banyak paranormal, namun tak ada juga yang berhasil mengobatinya. Hingga ada seorang paranormal yang mengatakan bahwa penyakit ayahnya tak dapat disembuhkan, hanya dokter ahli yang bisa menyembuhkan penyakit ayahnya. Sejak saat itu, Aini bercita-cita akan mejadi dokter dan masuk fakultas kedoteran.
Tekadnya untuk masuk fakultas kedokteran demi menyembuhkan ayahnya, ia akhirnya pindah ke kelas Guru Desi, kelas yang dianggap semua siswa adalah neraka, kandang singa dan lainnya. Namun Aini tetap bersikeras untuk tetap masuk ke kelas Guru Desi dan ke rumah Guru Desi. Bagai melewati gurun, jalan AIni tidaklah mudah. Ia harus kena damprat Guru Desi setiap ia belajar.
Cerita dalam novel ini mengajarkan banyak sekali pelajaran kehidupan, atau bahasa kerennya Slice of Life. Mengajarkan kita untuk tetap gigih, berusaha dan pantang menyerah demi menggapai cita-cita. Bagaimanapun keadaannya, jika kita berusaha dan percaya, niscaya Yang Maha Kuasa akan selalu member pertolongan.

Kamis, 12 September 2019

Skripsi Tentang Pengawet Bahan Alam

Judul Skripsi :


PENGARUH VARIASI KADAR EKSTRAK ALGA MERAH (Eucheuma cottonii) DARI PERAIRAN PULAU ENGGANO SEBAGAI BAHAN PENGAWET ALAMI FILLET
IKAN TUNA (Thunnus sp.)



Mau file lengkap? hub email dewiekauranium@gmail.com
Lengkap beserta ebook dapus

Kamis, 28 Maret 2019

Sinopsis Novel Orang-Orang Biasa


Novel Orang-Orang Biasa ditulis oleh novelis Indonesia yang sudah mendunia yaitu Andrea Hirata. Novel ini merupakan karya  ke-11 Beliau. Novel ini diterbitkan dan dicetak untuk pertama kali oleh penerbit Bentang Pustaka pada Februari 2019. Novel ini memiliki tebal sekitar 300 halaman. Novel ini mudah ditemukan karena memilki warna sampul kuning yang cerah. Gambar ilustrasi dibagian sampul depan terdapat sesosok tubuh seorang pria yang menggunakan topeng monyet dengan menyandangkan kantung harta karun atau kantung sinterklas. Mungkin itulah ilustrasi terbaik untuk menggambarkan isi dari novel ini.
 (Gambar sampul depan OOB).

Novel Orang-Orang Biasa ini berlatar di sebuah kampung di Belitong yaitu Belantik. Kampung yang bahkan tak akan kita temukan di peta Indonesia. Latar tempat dalam novel ini sangat menarik, dimana kampung Belantik berisi sekumpulan orang-orang yang luar biasa berhati besar meskipun mereka tidak mengenyam bangku pendidikan yang tinggi. Dalam novel Orang-orang Biasa menceritakan perjuangan sekawanan persahabatan yang sejak bangku SMA dalam memperjuangkan anak sahabatnya untu bisa kuliah Fakultas Kedokteran di Universitas Negeri ternama. Anak tersebut lulus tes masuk Fakultas Kedokteran, namun tidak sanggup membayar uang muka pendaftaran sebanyak 80 juta.
Sekawanan sahabat itu adalah Salud, Junilah, Nihe, Sobri, Honorun, Handai, Dinah, Rusip, Tohirin, dan anggota terakhir Debut. Mereka dipersatukan di bangku paling belakang saat sekolah. Karena rasa persatuan dan kesatuan atas persamaan nasib yang mereka alami hampir sama yaitu selalu mendapat nilai jelek dan bahakan ada beberapa yang tidak naik kelas beberapa kali dan selalu menjadi bahan bullian trio Bastardin dan duo Boron. Di dunia ini, ada orang-orang yang diciptakan menjadi orang-orang Berjaya dan orang-orang termangu.  Trio Bastardin dan duo Boron dicitptakan menjadi orang Berjaya dan sepuluh sahabat diciptakan menjadi orang termangu.
Aini adalah putri sulung Dinah yang lolos tes Fakultas Kedokteran Universitas negeri ternama. Namun sayang, cita-cita itu sempat dikubur dalam-dalam lantaran ia tak bisa membayar uang pendaftaran masuk sebesar 80 juta. Dinah dan putrinya Aini sudah kesana-kemari mencari pinjaman ke bank, ke koperasi namun selalu ditolak lantaran tak punya jaminan pinjaman. Karena memang tak ada barang berharga atau sertifikat tanah yang dapat digunakan sebagai jaminan. Akhirnya Aini bertekad menabung dengan bekerja menjadi karyawan warung kopi.  
Dinah sedih karena merasa bersalah telah melahirkan seorang anak cerdas sehingga ia tak mampu menyekolahkan Aini. Akhirnya, Debut dan anggota perkumpulan sahabat itu bertekad ingin membantu mencari biaya masuk Fakultas Kedokteran Aini meskipun mereka tahu bahwa sangat mustahil bisa mendapatkan uang sebesar 80 juta dalam waktu singkat.  Satu-satunya jalan untuk mendapatkan uang sebesar 80 juta adalah dengan merampok atau bahasa halusnya adalah meminjam terlebih dahulu nanti dikembalikan jika mereka tidak ingin meminjami uang itu.  
Disinilah keseruan novel ini dimulai. Dimana Debut cs mempersiapkan rencana perampokan bank yang tak kunjung selesai. Hingga 22 kali rapat namun bukan solusi yang mereka peroleh namun menambah masalah. Setting lain menceritakan kwartet Mul yang juga merencakan perampokan secara professional. Hingga akhirnya hari H perampokan datang jua. Perampokan dilakukan oleh sepuluh sahabat itu pada hari pawai kemerdekaan. Tim dibagi menjadi 2 yaitu penyerbu 1 dan 2. Namun saat tim penyerbu 1 sudah didepan brankas uang, Debut sebagai ketua pimpinan perampokan memberi perintah untuk kabur dan alhasil perampokan dibank gagal. Namun akhirnya mereka merampok toko Batu Mulia milik Trio Bastardin.  
Tak disangka, perampokan di toko Batu Mulia yang tak direncanakan  malah berhasil. Mereka berhasil mendapatkan 18 miliyar tak lebih dan tak kurang. Dalang dibalik perampokan itu adalah Debut, si idealis pemilik toko buku Heroik  yang miskin. Semua sudah direncanakan hingga melibatkan guru seni SMA. Namun sepuluh kawan itu berhati besar, sungguh besar. Mereka adalah orang-orang biasa namun luar biasa. Akhirnya uang hasil korup 18 miliyar itu  ditangkap oleh Inspektur dan komandan dengan trio Bastardin sebagai tersangka. Dan inspektur juga berhasil menangkap basah perampokan kwartat Mul.
Akhir cerita, sepuluh sahabat itu meminjam kepada siapa saja dan menjual barang apa saja yang bisa dijual demi Aini bisa kuliah Fakultas Kedokteran. Kasus perampokan yang gagal di bank hingga kini tak tercium dan tidak meninggalkan barang bukti sekecil apapun sehingga ini adalah kasus perampoan yang teraneh di kampung Belantik dan tidak pernah terpecahkan oleh Inspektur.

Minggu, 05 Maret 2017

Pulau Enggano


Pulau enggano merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau ini berada di kawasan Provinsi Bengkulu, kabupaten Bengkulu Utara. Pulau ini masih bisa dikatakan kurang maju karena di pulau enggano ini masih kental dengan adat istiadat. Pulau enggano terdiri dari 6 desa, yaitu Desa Kahyapu, Desa Kaana, Desa Malakoni, Desa Apoho, Desa Meok, dan Desa Banjarsari. Pusat Kecamatan Enggano berada di Desa Apoho.
Ini adalah kali pertama kunjungan saya sebagai warga Bengkulu ke Pulau Enggano setelah 21 tahun Berjaya dan memijak tanah kemanapun. Sebuah anugrah dan keajaiban saya bisa memijakkan kaki, bahkan merebahkan punggung serta meminum air di Pulau Enggano ini. Pulau indah nan elok ini, segenggam tanah surga yang tidak sengaja ditempatkan diantara perairan bumi.
Untuk sampai ke Pulau Enggano, alat transportasi yang bisa digunakan ada dua yaitu alat transportasi darat dan udara. Ada dua alat transportasi darat yaitu kapal Sabuk Nusantara dan Kapal Feri, sedangkan alat transportasi udara yaitu pesawat dengan kapasitas beberapa orang saja. Hal inilah yang menghambat perkembangan bagi pulau ini. Alat transportasi yang sulit diperoleh jika cuaca tidak mendukung membuat  masyarakat menelan pil kerugian. Meskipun demikian, masyarakat Pulau Enggano tetap sejahtera. Kehidupan tetap berjalan dengan damai dan harmoni.
Sebagian besar pendapatan masyarakat Pulau Enggano berasal dari hasil perkebunan pisang kepok , kemudian disusul kakao. Kondisi tanah mendukung pertumbuhan pohon pisang kapok sehingga pisang tumbuh subur dan membuahkan hasil yang memuaskan. Kurang mendukungnya teknologi pengolahan pisang menjadikan nilai jual buah pisang mejadi rendah. Selain itu, bagi sebagian masyarakat, laut adalah ladang bagi mereka yang bekerja sebagai nelayan. Hasil laut juga menjadi prioritas utama, namun Karena kurangny teknologi dalam pengolahan dan pengawetan, hasil laut hanya dipasarkan di daerah Bengkulu saja.   

Meskipun demikian, Pulau Enggano memiliki potensi alam yang menakjubkan. Pantai dan laut yang indah dan elok, kecek orang Bengkulu, kalo kata orang jawa, uaapiiikkk tenan (haha).  Daerah pemukiman yang disekitarnya laut dan pantai. Namun, karena masih terbilang daerah konservasi, daerah ini juga masih terdapat binatang buas, sehingga perlu hati-hati jika anda mengunjungi pulau Enggano. Berikut adalah poto-poto dari Pulau Enggano
Gambar 1. Pantai Pulau Enggano
Gambar 2. Pantai menuju Muara Kahabi
Gambar 3. Muara Kahabi di Desa Banjarsari
Gambar 4. Bakblau di Desa Meok

Check this blog for see another beautiful picture of Enggano Island...okee?

Minggu, 17 Januari 2016

Makanan Cireng (Aci Goreng)

CIRENG

Cireng (singkatan dari aci goreng, bahasa Sunda untuk 'tepung kanji goreng') adalah makanan ringan yang berasal dari daerah Sunda yang dibuat dengan cara menggoreng campuran adonan yang berbahan utama tepung kanji atau tapioka. Makanan ringan ini sangat populer di daerah Priangan, dan dijual dalam berbagai bentuk dan variasi rasa. Makanan ini cukup terkenal pada era 80-an. Bahan makanan ini antara lain terdiri dari tepung kanji, tepung terigu, air, merica bubuk, garam, bawang putih, kedelai, daun bawang dan minyak goreng.
Seiring dengan perkembangan zaman, cireng telah terinovasi hingga variasi rasa yang ada mencakup daging ayam, sapi, sosis, baso, hingga keju dan ayam teriyaki. Bahkan inovasi tidak hanya secara rasa namun bentuk, contohnya adalah cimol. Sekarang Cireng tidak hanya terdapat di Priangan saja, tetapi sudah menyebar ke hampir seluruh penjuru Nusantara. Cireng yang dulu pada umumnya dijual oleh pedagang yang menaiki sepeda dengan peralatan membuat Cireng di bagian belakang sepedanya, bahkan telah tersedia online cireng.
            Tidak hanya di daerah pulau Jawa saja Cireng beredar. Namun, cireng juga telah sampai di Bengkulu, kota kecil yang banyak orang tidak tahu dan tidak dikenal. Aku pernah menemukan orang berjualan cireng di kota Bengkulu di daerah sekitar kampus Universitas Bengkulu. Cireng dijual bersama kawan-kawannya seperti bakwan, tahu isi, pisang goreng, tempe goreng, pisang coklat (piscok), dan lainnya. Cireng di Bengkulu sendiri terbuat dari bahan utama tepung kanji atau tepung aci dengan isi berupa sambal kacang tanah kental seperti sambal pecel atau lotek. Atau bisa juga berisi sambal cabe biasa. Cireng juga bisa dimakan dengan saus sambal jika bagian dalam cireng tidak berisi.
            Sedangkan cireng yang yang pernah saya temui di daerah Palembang dekat Kambang Iwak kecil, cireng bisa beraneka isi seperti baso pedas, sosis, ayam, abon dan lainnya. Namun, terdapat sedikit perbedaan cireng yang ada di Bengkulu dengan di Palembang. Di Palembang, cireng tidak terbuat dari bahan utama aci, melainkan tepung topioka biasa. Dan rasanya juga hanya seperti tepung goreng berisi saja. Tidak ada rasa khas dari cireng sesuai literatur dan sumber yang terpercaya. Menurut teman saya yang pernah tinggal di Bogor, cireng asli Bandung seperti cireng yang ada di Bengkulu dimana terbuat dari tepung aci yang digoreng. Namun, bentuknya beragam seperti bintang, bulat, persegi panjang, love (waru) dll.
Meskipun cireng di Bengkulu belum memiliki variasi isi seperti di Palembang, namun cireng di Bengkulu lebih menarik jika dilihat dari sudut pandang rasa. Di Bengklu sendiri cireng kurang dikenal dan disukai. Menurut beberapa narasumber yang ada di tempat jualan cireng dan lebih memilih membeli gorengan lain , “cireng rasanya seperti aci goreng. Kenyal dan susah digigit. Memang rasanya enak, namun karena tidak terbiasa memakan itu (cireng) jadi saya lebih suka membeli gorengan saja”. Ada juga yang mengatakan “cireng itu kan Cuma aci goreng, saya juga bisa buat itu di kosan. Tinggal beli tepung aci ditambah minyak kemudian langsung digoreng. Sudah, begitu saja selesai, untuk apa beli”.


Cireng memang aci goreng mbak, gorengan lain juga kalo mbak mau buat sendiri juga bisa. Mau buat tahu isi? Beli tahu kepong, sayuran wortel, kubis, seledri, tepung terigu untuk pembungkusnya dicampur digoreng. Sudah mbak, selesai kan? (jika saja aku punya keberanian menjawab itu, hehe). 

Berbagi cerita PKL hari ke-1

Jumat, 15 januari 2016
Ini adalah hari pertama aku magang atau kerja praktek di salah satu perusahaan minyak dan gas swasta di Provinsi Sumatra Selatan, Medco E&P Indonesia. Aku dan teman sekelas plus seangkatanku, Raufelina Febriama atau lebih dikenal Rara magang di tempat tersebut. Aku, yang notabene adalah makhluk tak tahu malu, hanya menumpang magang disana berkat Rara yang memiliki seorang Paman yang bekerja di perusahaan tersebut. Dan aku, hanya menumpang mulai dari info ada lowongan untuk magang disana sampai aku berada di perusahaan ini, saat ini. Mungkin bisa dikatakan bahwa urat maluku sudah tidak ada. Aku menumpang mulai dari keberangkatan sampai menginap ditempat Paman Rara bahkan aku mendapat diskon untuk membayar kontrakan. Bukankah aku beruntung? Namun, disatu sisi aku merasa tidak enak.
Hari pertama magang, kami berangkat sekitar jam 07.00 pagi dari rumah Paman Rara, diantar oleh keluarga Rara menuju kontrakan. Kontrakan yang terbilang mewah bagiku. Kontrakan yang mungkin apabila hanya ada aku sendiri mungkin tidak akan menyewa tepat itu. Bagaimana tidak mewah? Pertama aku diberitahu harga sewa perbulannya Rp 1.500.000,- aku kaget? Wah itu sih bisa untuk sewa kontrakanku di Bengkulu selama setengah bulan. Gilaa..apakah memang semahal itu di Palembang ini atau memang sesuai fasilitas? Namun, ketika aku sampai di kontrakan tersebut, aku tidak menyangkal dan tidak menawar lagi harga yang diberikan. Dengan harga segitu diberi fasilitas pendingan ruangan, bukan kipas kecil melainkan AC, dengan 2 buah kasur plus dipan yang dilengkapi dengan spray, selimut dan dua buah bantal. Serta perabotan seperti lemari kayu yang besar, meja kayu dan tempat dapur. Bahkan, di kamar mandi tersedia alat mandi shower. Dan lagi closet nya bukan lagi closet jongkok, melainkan closet duduk seperti di tv.
Aku berdecak kagum melihat ruangan kontrakan pilihan keluarga Rara. Mungkin jika aku yang mencari kontrakan, aku akan mencari kontrakan dengan harga semurah-murahnya. Masalah fasilitas itu bisa dipikir nanti. Aku merasa ciut lagi ketika itu. Apakah memang aku yang tidak terbiasa dengan hal seperti ini atau bagaimana? Namun, aku bersyukur berasal dari keluarga yang bisa dibilang sederhana. Karena jika bukan dari keluarga sederhana, tentu saja aku akan kesusahan melengkapi hidupku. Satu pelajaran kehidupan yang bisa kudapat dari sini : sepertinya aku tidak cocok menjadi orang kaya, sederhana adalah gaya hidupku, tak akan berubah.
Setelah melihat kontrakan, kami langsung berangkat ke kantor. Disaat itu jam menunjukkan hampir jam 8. Dan kami sampai di kantor yang jaraknya tidak terlalu jauh namun melelahkan jika berjalan kaki jam 8 lebih. Kami menuju pos satpam dan menukarkan kartu identitas berupa KTP dengan kartu identitas pengunjung. Kami langsung menuju tempat tempat Pak Erdyan, HRD perusahaan tersebut. Ketika sampai disana, Pak Erdyan tidak ada, sehingga kami harus menunggu. Banyak pegawai berlalu lalang dan menanyakan apa keperluan kami.
“Cari siapa, Dik?” tanya seorang pegawai.
“Pak Erdyan, Pak,” jawab kami.
“O Pak Erdyannya tidak ada, masih dikantin. Mungkin sebentar lagi kembali,”
Hampir setengah jam kami menunggu didepan ruangan. Akhirnya Pak HRD datang dan menyuruh kami masuk.
“Udah lama ya? Ayo masuk,” Ajak beliau.
Map berisi berkas-berkas penting kusodorkan pada beliau dan langsun beliau cek kelengkapannya. Kemudian, kami diperlihatkan sebuah video mengenai perusahaan tersebut dan beliau pergi meninggalkan kami untuk ganti pakaian. Setiap hari jumat, seluruh pegawai harus mengikuti senam atau olahraga bersama. Sehingga pada hari jumat seluruh mahasiswa magang harus mengikuti olahraga juga. Sedikit lama kami menunggu beliau setelah video tersebut selesai. Dan akhirnya kami di ajak untuk menemui pembimbing lapangan kami, beliau bernama Rustian Aquadesianto OH. Sebuah nama yang ilmiah, menurutku.
“Seharusnya sebelum kalian ke sini, berkas ini dikirimkan ke universitas dulu, baru setelah itu kalian datang bersama berkas ini,”
Beliau menjelaskan berbagai peraturan sesuai berkas yang diberikan pada kami perpoint dan sangat detail menjelaskannya. Bagaimana etika dan tata tertib bagi mahasiswa magang seperti kmai yang masih bloon. Jadwal kami berada di kantor adalah mulai pukul 07.00-16.00 dimana dari jam 12.00-13.00 adalah waktu istirahat. Dan tersedia kantin di perusahaan tersebut. Dalam satu minggu, weekend hari sabtu-minggu adalah hari libur. Sedangkan jika berada di lapangan, tidak ada hari libur alias full time to work.   
Sampai di kantor utama, kami diserahkan pada seorang pegawai wanita, berambut panjang dan ramah, menurutku. Karena pembimbing lapangan sedang sibuk, kami hanya duduk di tempat salah seorang pegawai yang orangnya tidak ada. Mungkin sekitar setengah jam kami hanya duduk menunggu tanpa kejelasan. Kemudian datang seorang bapak-bapak yang ternyata adalah Fac Manager. Kami diajak memasuki ruangan beliau. Dan diajak berbincang sebentar sebelum pak pembimbing lapangan kami datang.
Karena ini baru hari pertama, kami diberi jadwal selama kami magang beserta materi yang begitu banyak jumlahnya. Kami disuruh membaca sekilas mengenai materi tersebut. Namun, karena kami tidak membawa perangkat komputer sehingga kami hanya duduk-duduk kembali ditempat yang tadi. Sungguh membosankan. Namun apa boleh buat. Kami hanya duduk mengobrol sesuatu hal yang tidak jelas sampai jam pulang. Dan sialnya lagi, pintu akses keluar hanya bisa terbuka dengan ID card. Sehingga kami tidak bisa keluar dan masuk sesuka hati, harus menunggu orang lain lewat. Pak HRD mengatakan pada kami bahwa ada mahasiswa lain yang juga magang. Dimana mereka memegang satu ID card untuk akses pintu keluar-masuk. Namun, sampai hari pertama kami magang, kami belum juga bertemu dengan mereka untuk mendapatkan ID card.
Jam 4 sore kami pulang. Hujan gerimis sedikit lebat mengguyur kota Palembang sekitar tempat kami bekerja. Bahkan peribahasa yang sudah lama mengakar, sedia payung sebelum hujan yang memiliki arti pun kami abaikan. Kami pergi tanpa persiapan apapun. Payung tidak ada, yang ada hanyalah basah kuyup akibat hujan. Di depan kantor, terdapat alfamart dan kami berbelanja kebutuhan di kontrakan serta persediaan makanan. Dan akhirnya kami bermalam untuk kali pertama di kontrakan yang baru.
Ada sedikit rasa rindu. Rasa rindu terhadap keluarga, ibu, bapak, adik, teman-teman dekat. Merasa asing berada di tempat orang. Merasa sendiri, padahal aku tidak sendiri. Ada rasa ingin menangis dan bercerita bahwa sebenarnya aku sedikit takut berada di sini. Namun inilah keputusanku untuk berada di sini. Mungkin inilah yang dirasakan oleh orang yang jarang pergi jauh.